KUBU RAYA,SP – Komitmen Mantan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, terhadap pengembangan pendidikan berbasis tahfiz Alquran kembali ditunjukkan melalui wakaf lahan untuk Pesantren Labbaik Indonesia.
Kali ini, lahan tambahan diserahkan untuk mendukung pembangunan SMA Tahfizhul Quran Labbaik Putra yang berlokasi di Jalan Parit Kerekah, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Rabu (11/2).
Sebelumnya, Sutarmidji telah mewakafkan lahan seluas lebih dari 11 ribu meter persegi atau sekitar 1,2 hektare. Di atas lahan tersebut kini telah berdiri 12 ruang belajar. Namun, pengembangan belum berhenti.
Melihat keseriusan pengelola pesantren dalam membangun sumber daya manusia, Midji sapaan akrabnya kembali menyerahkan lahan tambahan yang lokasinya tak jauh dari wakaf sebelumnya.
Pembina Pesantren Labbaik Indonesia, Ustaz Harjani Hefni, menjelaskan bahwa lahan terbaru itu memiliki dua peruntukan utama.
“Ada dua penggunaan lahan yang diwakafkan Pak Sutarmidji, yakni untuk masjid seluas 3.400 meter persegi dan untuk sekolah seluas 5.500 meter persegi,” ujarnya.
Menurut Harjani, tambahan lahan ini menjadi angin segar di tengah tingginya minat masyarakat menyekolahkan anaknya di pesantren tahfiz. Saat ini, jumlah santri terus bertambah. Di SMA Tahfizhul Quran Labbaik Putra Pal IX tercatat 145 santri.
Di Pal 7 terdapat 196 santri SMP putri, di Ampera 159 santri SMA putra, serta di Anjongan, Mempawah, sebanyak 136 santri SMP putra.
Dengan lahan 5.500 meter persegi yang baru diwakafkan, pihak pesantren memperkirakan dapat menampung sekitar 500 santri tambahan apabila dibangun satu lantai.
“Alhamdulillah, minat masyarakat cukup besar. Karena itu, pembangunan fasilitas baru sangat kami butuhkan,” katanya.
Bagi Midji, keputusan mewakafkan lahan tambahan bukan tanpa alasan. Ia menilai pengelola pesantren menunjukkan kesungguhan dalam mencetak generasi penghafal Alquran yang berkualitas.
“Awalnya saya wakafkan lahan lebih dari 11 ribu meter persegi. Karena Pak Ustaz Harjani dan kawan-kawan ini gencar membangun, kebetulan dekat sini masih ada lahan saya, jadi saya wakafkan saja,” ujarnya.
Wakaf tersebut juga diniatkan untuk pembangunan masjid di lingkungan pesantren. Selama ini, lokasi masjid terdekat dinilai cukup jauh dari area tempat para santri menetap.
“Supaya sarana prasarana pesantren bisa lebih lengkap,” katanya.
Untuk pembangunan masjid, Midji memastikan pihak keluarga yang akan membiayai. Dana awal sebesar Rp300 juta telah disiapkan. Saat ini, proses masih pada tahap penyiapan jembatan karena lokasi lahan berada di seberang parit, serta penyusunan gambar dan RAB.
“Insyaallah keluarga kami yang bangun masjidnya. Tinggal menyiapkan jembatan, lalu menyelesaikan gambar dan RAB. Kalau itu sudah jadi, pembangunan bisa langsung dimulai,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan masjid di lingkungan pesantren sangat penting untuk menunjang aktivitas ibadah santri, mulai dari salat lima waktu hingga salat Jumat tanpa harus menempuh jarak jauh.
Lebih jauh, Midji berharap pendidikan berbasis pesantren tidak lagi dipandang sebagai lembaga kelas dua.
“Justru ini pendidikan kelas satu. Saya harap ke depan ada polisi, tentara, dan ASN yang juga hafiz Alquran. Insyaallah bagus, karena peluang untuk melakukan hal yang tidak baik jadi lebih kecil,” tuturnya.
Dalam momentum itu Midji mengajak masyarakat yang memiliki kemampuan rezeki untuk ikut berkontribusi membangun dan mengembangkan lembaga-lembaga tahfiz Alquran di Kalimantan Barat.
“Saya juga mengajak mereka yang punya rezeki sama-sama membangun, mengembangkan lembaga tahfiz yang ada,” pungkasnya.*